Bagaimana merubah aset tidak produktif menjadi produktif

Bagaimana merubah aset tidak produktif menjadi produktif – Pengalaman Usaha. Bagaimana mendapat modal usaha gratis? Tidak berani menggunakan modal karena merasa menggunakan cash anda terlalu spekulatif untuk memulai usaha baru? Simak paparan berikut, tentang cara saya merubah aset aset non produktif, menjualnya, mendapatkan modal usaha, dan menginjeksi modal usaha untuk belanja alat usaha, lalu menjalankan usaha? Bila dalam case terburuk usaha saya gagal maka saya setidaknya bukan menggunakan dana cash saya, tapi karena modal yang saya gunakan untuk usaha itu adalah aset non produktif yang telah saya jual untuk saya jadikan modal.

Jangan membiasakan membuang waktumu percuma. Sebagai orang sibuk, saya punya segudang aktifitas yang pratis tidak sempat membuat saya untuk membuang waktu. Tinggal di kota dengan keterbatasan fasilitas dan hiburan ( beberapa tahun lalu) membuat saya harus pintar dalam mencari aktifitas berguna. Olahraga dan membaca adalah pilihan waktu itu, kebetulan ada teman menawarkan paket renang setahun hanya seharga 300ribu setahun, dengan catatan sekali daftar bertiga.

Jadi bagi yang seorang diri harus cari teman lain agar genap 3 orang, Paket ini memboleh berenang atau fitness tiap hari. Mungkin strategi marketing ini telah mempelajari bahwa tidak mungkin orang berenang atau fitness tiap hari, bisa kurus kering energinya habis.

Kalau saya hitung, bila saya tiap hari berenang maka hanya bayar seribu rupiahan saja. Dan waktu itu memang saya sangat rajin berenang, seminggu bisa 2 kali. Sedang untuk fitnes sesekali saja. Tawaran paket olahraga yang sayang sekali kalau dilewatkan,

Setelah berenang, saya lanjutkan dengan makan malam. Tiap hari makan di mall pusat kota, hebat sekali ya, benar adanya itu saya tiap hari makan di mall. Ini karena waktu tahun 2003 makan di luar dengan makan di pujasera atau kumpulan tempat makan di mall harganya sama, paling selisih hanya 2 ribu. Jadi sekalian menghabiskan sore sebelum kembali ke kontrakan saya biasa membaca buku di toko buku terbesar dan terbanyak jaringan di Indonesia. Beruntung di kota yang terbilang kurang fasilitas ( jaman dulu lho ya)  saya masih bisa membaca atau lihat buka tiap malam.

 

Tak terhitung berapa banyak buku yang saya sudah beli, dari mulai belajar teknik pernafasan, pemrograman ASP, PHP, PHP Nuke, CMS Joomla, buku buku motivasi, buku seri Financial Freedom, buku serial Rich Dad Poor Dad, buku buku property, dan masih banyak lagi. Sekarang buku buku itu banyak sekali tersimpan di lemari. Sudah sekitar 12 tahun buku itu ada di lemari.

Trend had changed, Jaman telah berubah, membuat orang telah bergeser minat dari membaca buku ke buku digital, walaupun demikian buku masih juga ada peminatnya. Kadang mikir kembali juga kenapa dulu saya banyak membeli buku, padahal kalau dipikir hanya paling banyak 3 kali saya baca buku itu.

Merubah aset non produktif menjadi produktif. Aset kalau di dalam akuntansi berada di sisi harta, ada aset lancar dan aset tetap. Menurut Robert T. Kiyosaki, aset ada yang produktif ada yang tidak produktif, bahkan cenderung memerlukan biaya. Mengingat hal itu maka saya ada kepikiran menjual koleksi buku-buku yang saya miliki. Pertimbangan saya adalah, saat ini saya sudah tidak membacanya, buku itu sudah saya kuasai ilmunya, atau saya sudah beralih minat. Bisa saja bukan saya beralih minat.

Daripada buku memenuhi lemari saya, maka saya ada ide buku buku itu saya foto, lalu sedikit saya edit dengan tujuan untuk mengecilkan ukuran. Setelah saya tulis di word tentang data buku, pengarang, penerbit, summary, jumlah halaman, dan kondisi buku. Lalu saya pajang di toko online saya di salah satu marketplace Indonesia.

Berapa harga saya jual? Karena buku buku ini termasuk buku lama sebagian ilmunya memang masih relevan seperti buku ilmu tentang property, tentang financial, tentang cash flow dan capital management,  maka bisa saya jual cukup tinggi.

Menerapkan hukum supply dan demand. Sebelum menjual buku, saya browsing dulu tentang ketersediaan buku buku tersebut, beberapa judul memang sudah tidak ada yang jual, tapi saya tidak bisa jual harga mahal, kenapa?? Karena buku itu ilmunya sudah obsolete, sudah kuno, karena tergusur teknik dan cara baru, misalnya adalah buku tentang pemrograman dan CMS (Content Management System) karena sekarang ini perkembangan ilmu pemrograman dan CMS sudah sangat maju, dan resources untuk belajar juga sangat banyak, maka saya hanya jual murah saja, mungkin saja ada yang membutuhkan.

Buku dengan harga jual yang bagus. Sesuai prinsip demand dan supply, ada sekitar 5 buku yang saya miliki ternyata sudah tidak terbit. Dan buku buku tersebut saya beli by order langsung ke pengarang, jadi saya dapat tanda tangan dan beberapa gift seperti pembatas buku dan CD asli dari pengarang. Untuk buku buku tersebut saya jual diatas harga beli saya dulu. Dan ajaibnya ada saja yang order dan membayarnya. Bahkan setelah buku itu lakupun masih ada yang mengontak saya via pesan yang disediakan di marketplace tersebut.

Buku buku yang saya jual tersebut telah membuat toko saya terhitung beruntung, dengan diberi label Lucky Merchant karena baru buka sudah ada sekitar 7 item terjual. Itu sekedar gambaran saja kadang barang yang kurang berguna bagi kita, mungkin masih ada orang yang membutuhkan, bisa kita berikan atau kita bisa jual.

Uang hasil penjualan buku terkumpul cukup untuk saya gunakan beli alat-alat perawatan mobil / otocare. Dengan peralatan seharga jualan buku itu bisa menghasilkan jasa yang laku di jual. Di sini perpaduan antara hobi, skill, alat, dan bahan ternyata bisa jadi peluang usaha. Dan bisa dikata peluang usaha ini adalah modal dengkul, karena saya nothing to lose ketika menjual buku itu. Selama ini buku buku tersebut hanya memenuhi lemari saya, kenapa tidak saya uangkan dan saya jadikan alat yang lebih produktif.

Tulisan ini melengkapi tulisan saya terdahulu tentang bagaimana mendapatkan modal usaha gratis, intinya tidak gratis tapi merubah aset mandeg atau aset tidak produktif menjadi aset yang lebih produktif. Dengan alat otomotitf yang saya beli itu, saya bisa menerima order jasa otomotif dengan bayaran sekitar 300-500ribu per jasa. Bagaimana tanggapan anda?

Menggunakan autoresponder untuk menjawab pertanyaan client secara otomatis

Menggunakan autoresponder untuk menjawab pertanyaan client secara otomatis Pengalaman Usaha. Bagaimana menurut anda dengan istilah pembeli adalah raja? saya tidak membahas lebih lanjut saya kira sebagai pelaku usaha kita sudah faham bagaimana harus bersikap pada pembeli.

Pembeli sebagai raja istilahnya seperti itu, pun kadang ada saja calon pembeli yang mengontak menanyakan tentang barang di luar jam kerja, padahal beberapa rekan masboss sudah menerapkan jam kerja / operasional usahanya, namun ada saja pembeli yang menghubungi di luar jam operasional usaha. Maklum saja bila pembeli berasal dari luar negeri dengan beda jam, namun ini pembeli berasal dari satu daerah waktu yang sama, pertanyaannya apakah tidak ada hari esok.

Positif thinking tetap harus dipakai dalam menghadapi pembeli.
Mendapat pertanyaan order seperti diatas, dimana di luar jam kerja ada pertanyaan dari client ada beberapa cara menyikapinya,

Memasang autoresponder bila anda membuka jalur contact dengan menggunakan form mail seperti pada contact di blog pengalaman usaha ini. Bisa diset adanya autoresponder yang bisa segera menjawab memberitahukan bahwa toko sedang tutup, pertanyaan akan secepatnya dijawab pada jam kerja.

Bahasan ini adalah secara umum, untuk cara bagaimana memasangnya bila anda memesan sebuah blog atau website untuk usaha maka anda bisa sampaikan ke webmaster pembuat blog atau web anda untuk mengatur bagaimana pesan responder yang disampaikan ke pengunjung yang mengontak anda.

Dengan adanya autoresponder ini maka anda terbebas dari keharusan menjawab pesan saat itu juga karena anda telah mengirim reply sebagai response atas pertanyaan pelanggan.

Trend bekerja dari rumah, trend baru dunia era digital

Trend bekerja dari rumah, trend baru dunia era digital – Pengalaman Usaha. Baru baru ini Startup Digital dunia banyak merekrut pegawai baru, ini satu bentuk pergeseran trend bahwa bekerja dari rumah ternyata telah menjadi minat sebagian kalangan orang.

 

Siapa yang tidak ingin bekerja di rumah? tanpa harus terjebak kemacetan, datang di kantor dan pulang bisa tepat waktu? Nanti dulu mungkin bayangan bekerja di rumah atau berkantor di rumah beda dengan jenis bekerja di rumah dari beberapa perusahaan startup digital dunia. Beberapa jenis pekerjaan memang cocok untuk menggunakan model bekerja dari rumah, tapi tidak semua jenis pekerjaan cocok untuk diterapkan systemnya seperti ini.

Contoh paling relevan adalah perusahaan IT, baik software develoment ataupun bidang kerja online digital lainnya karena jenis pekerjaanya maka memungkinkan untuk diterapkan sistem bekerja dari rumah. Biasanya jenis pekerjaan seperti ini tidak perlu terlibat banyak meeting dan koordinasi secara offline, hanya diperlukan small meeting activity namun efektif melalui media seperti skype, atau group call lainnya. Ini adalah satu terobosan yang banyak dimulai dan diprakarsai perusahaan startup digital. Salah satu alasan adalah efisiensi, cutcost, dan tentunya karena memang jenis pekerjaannya menuntut performa per individu.

Banyak programmer, designer, ilustrator, dan digital admin lainnya menangani pekerjaannya bahkan hanya dari ruang kerja khusus di rumahya.

Perusahaan startup tersebut ketika telah menemukan kandidat yang tepat maka akan segera memberikan anggaran dana untuk melakukan setup kantor dan peralatan kerja, seperti laptop atau mac, lengkap dengan sarana internet dan komunikasi untuk netmeeting. Sehingga walaupun memiliki jarak yang jauh dari kantor pusat tetapi ternyata sudah ada standar ruang kerja tersendiri yang telah ditetapkan.

Bekerja tanpa boss? bagaimana bisa disiplin? Bagi sebagian orang, alasan utama bekerja di rumah adalah karena tidak mau diperintah boss, atau diatur orang. Untuk jenis pekerjaan pada startup digital ini telah didesain dengan sistem rating, dimana kerja hampir tidak ada deadline, namun di sini sebagai pekerja ternyata masing masing sudah menyadari perannya masing masing akan project yang telah diberikan sehingga tidak ada kata lain selain mengerjakan dengan sungguh sungguh.

Mungkin budaya kerja yang demikian yang masih akan sulit ditemukan dan mungkin sulit ditiru. Namun kenyataan di sebagian belahan dunia sana ternyata sudah ada orang yang bekerja hanya dari rumah, mengerjakan proyek komputasi dan programming, atau desain hanya dari satu ruang khusus di rumah mereka.

Tertarik bekerja di rumah? itu semua bukan mimpi, dari skala kecil saja sebenarnya sudah bisa memulai seperti sekarang banyak marketplace yang merupakan portal tempat berkumpul penjual jasa digital, seperti webmanage, programming, designing, web optimizing dan masih banyak lagi.